Legenda Desa Kaligintung

Sebuah legenda cerita rakyat tersisa di Desa Kaligintung dan Kedundang, Kecamatan Temon. Cerita rakyat diawali dari kisah perjalanan Kyai Ageng Dalmudal, tokoh masyarakat setempat yang telah meninggal ratusan
tahun silam.

Meski sudah tiada, sampai saat ini makam Kyai Ageng Dalmudal masih tetap lestari, sekaligus menyuarakan cerita masa lampau yang dipercayai oleh masyarakat. Kebesaran sosok Kyai Ageng Dalmudal terlihat dari 13 balok kayu jati yang tersusun rapi menjulang ke atas, hampir mendekati batas tertinggi atap cungkup makam yang berlokasi di Gunung Traunan, Dusun Pedukuhan Lima, Kaligintung, Kecamatan Temon.

Tumpukan kayu setinggi tiga meter itu merupakan nisan untuk penghormatan kepada Kyai Ageng Dalmudal, yang saat ini diyakini sebagai leluhur warga Desa Kaligintung. Jasad Kyai Ageng Dalmudal sendiri terletak di bawah nisan berundak itu. Saat ini, nisan ditutupi dengan kain mori. Hanya pada bulan Ruwah pada penanggalan Jawa saja, makam tersebut dibersihkan oleh warga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah membangun desa seluas kurang lebih 219 hektar ini.

Konon, lembaran sejarah ini dimulai saat Kyai Ageng Dalmudal yang memiliki nama muda Kanjeng Pangeran Kebo Kenongo hijrah ke Kulonprogo. Putra pertama Prabu Brawijaya dari Majapahit itu tidak memperoleh tahta Kerajaan. Karena Brawiajaya memberikan tahta kepada anak keduanya. Kebo Kenongo kemudian memilih pergi mening galkan Majapahit hingga akhirnya menetap dan meninggal di Kaligintung.

Salah seorang juru kunci makam, Bambang Heruntoro membenarkan cerita itu. Menurutnya, cerita tentang Kyai Ageng Dalmudal tidak pernah hilang. ”Kami selalu mewariskan cerita tutur ini kepada anak cucu kami secara turun temurun,” imbuhnya.

Bambang menjelaskan waktu Dalmudal hijrah ke Kulonprogo, sekawanan prajurit dari Majapahit dengan dipimpin oleh Kyai Kendil Wesi juga datang ke Kulonprogo, hendak menjemput Dalmudal. Namun ia menolaknya,sehingga terjadi pertempuran. “Dalam pertempuran, Kyai Dalmudal akhirnya menang,” imbuhnya.

Uniknya, buntut dari peristiwa ini, penduduk di kedua desa itu dilarang saling menikah. Jika dilanggar, mereka akan mendapatkan marabahaya. “Sampai sekarang antara warga Kedundang dan Kaligintung tidak pernah besanan atau melakukan perkawinan,” ungkapnya. Meski demikian, kerukunan antarwarga Kedundang dan Kaligintung terus terbina.





Penulis


Heri Rudi Atmoko

JOYOWIYONO

Joyowiyono, nama yang diberikan oleh orangtuanya. Nama kecilnya 'pair". Diusianya yang saat ini telah memasuki kepala 9, tahir tahun 1922 harus meninggalkan kampung halamannya untuk menikmati hari tuanya. Mbah joyo beserta istri tercintanya harus ikut anak ke daerah lain. Kebonrejo yg dicintainya, tempat lahir dan tempat untuk membesarkan kedua anaknya sudah tidak dapat lagi ditinggalinya sebagai tempat berteduh karena faktor usia dan kesehatannya. Istri tercintanya karena kesehatannya juga sudah tidak dapat merawatnya seperti dulu. Mbah joyo yg rumahnya joglo bergandeng limasan dan dapur model kampung dengan nuansa rumah jawa asli tempo dulu kini tinggal kenangan. Ketiga rumahnya itu kini kosong tak ada yang menempati. Anaknya yang sulung nan jauh dirantau mencari nafkah. Sesekali terbayang kampung halamannya namun apa daya ia harus tinggal bersama anaknya yang bungsu. Ada sesuatu yang hebat dari mbah joyo. Sekalipun mbah joyo tidak bisa berbahasa indonesia dan menulis, tetapi berusaha menyekolahkan kedua anaknya hingga perguruan tinggi. Semoga mbah joyo beserta istri dan keluarganya senantiasa sehat walaupun kini telah dirantau.

GUNUNG LANANG (CONGOT)


A. Selayang Pandang

Jangan pernah membayangkan Gunung Lanang serupa dengan lazimnya sebuah gunung yang memiliki ketinggian 500 meter di atas permukaan laut (dpl) atau lebih, dengan hawa sejuk karena pepohonan yang lebat yang tumbuh mengitari kaki gunung. Gunung yang terletak di Dusun Bayeman, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo ini hanyalah sebuah gundukan tanah berkadar pasir tinggi atau berupa bukit kecil di pesisir laut yang ditumbuhi pohon-pohon khas tanah tandus yang menjulang. Pepohonan di bukit yang memiliki luas sekitar 500 m2 ini tertata rapi mengelilinginya. Kendati jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya relatif renggang, di bukit ini tampak berserakan rontokan dedaunan yang memenuhi pelataran Astana Jingga, sebuah pelataran di puncak bukit untuk melaksanakan ritual tertentu.

Sesungguhnya nama lain dari Gunung Lanang ialah Astana Jingga atau Badraloka Mandira. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Gunung Lanang. Nama “lanang” dalam bahasa Jawa berarti “laki-laki”. Oleh karena petilasan ini dulunya tempat pertapa seorang bangsawan laki-laki dari Mataram Kuna, maka bukit keramat ini diberi nama Gunung Lanang.

Gerbang menuju puncak Gunung Lanang. Di sini, pengunjung harus melepas alas kaki karena memasuki area yang dianggap suci. Sementara untuk nama Astana Jingga bermakna tempat tinggal yang memancarkan sinar kuning kemerahan. Sedangkan Badraloka Mandira artinya bangunan terbuat dari batu bata yang memancarkan sinar keagungan (badra). Kedua nama ini diberikan lantaran tuah yang dimiliki gunung ini, yaitu dianggap dapat mendatangkan berkah atau sebuah wangsit. Di sinilah biasanya seseorang melakukan tirakat, ruwatan, atau semedi (menyepi untuk mendapat berkah). Di sebelah selatan dari puncak gunung gumuk pasir ini, tampak Laut Kidul (demikian orang Jawa menamai Samudra Hindia) yang birunya membentang seolah tanpa ujung dari timur ke barat.

B. Keistimewaan

Gunung Lanang diyakini dapat mendatangkan berkah. Berkah dapat berupa karir yang bagus dalam pekerjaan maupun kemudahan dalam bisnis. Pengunduh berkah semacam ini biasanya dilakukan oleh orang-orang dari kota. Tidak jarang dari mereka yang berasal dari kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, dan Surabaya. Mereka berharap tuah dari petilasan di Gunung Lanang ini jatuh ke tangan mereka. Lebih dari itu, di petilasan ini juga terdapat sumur yang airnya diyakini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Selain menjadi sarana bagi seseorang untuk bertirakat atau bersemedi, upacara-upacara maupun laku spiritual masyarakat setempat yang masih menganut kejawen juga kerap kali diselenggarakan. Terutama, pada setiap malam 1 Suro. Pada tanggal ini, rutin diadakan Ruwatan Agung Tumapaking Laku Suci. Selain warga setempat, prosesi ruwatan massal ini biasanya juga diikuti oleh berbagai kalangan dari luar Kota Wates, Ibu Kota Kabupaten Kulon Progo.

Pelataran Astana Jingga, tempat melakukan ritual. Sebelum menjalani acara ritual-spiritual ini, disarankan bagi para peserta terlebih dahulu harus mensucikan diri secara lahir dan batin (sesuci). Sesuci dilakukan dengan cara mengambil air dari sumur Tirto Kencono kemudian dibasuhkan pada muka (semacam berwudhu bagi orang Islam). Setelah itu, peserta harus melakukan persiapan batin di Sasana Jiwo dengan memanjatkan doa atau melantunkan kidung pambuko agar selama prosesi ritual senantiasa dalam kuasa dan lindungan-Nya.
Tahapan selanjutnya adalah memasuki Sasana Sukma dan Sasana Indra (pusat Gunung Lanang) yang berada di pelataran Astana Jingga. Sasana Sukma ialah prasasti bertuliskan aksara Jawa yang berdiri tegak menyerupai kuncup bunga yang berada di tengah Sasana Indra. Area Sasana Indra ini dibatasi oleh “pagar” berundak-undak berbentuk segi lima dan menghadap ke selatan. Di sini, peserta ritual melakukan puncak semedi di alam keheningan dengan sikap pasrah, konsentrasi penuh, serta jiwa yang tertuju pada kebesaran Yang Maha Kuasa.

Sasana Sukma (kanan) di dalam Sasana Indra (kiri). Selanjutnya, peserta ritual kembali ke Sasana Jiwo untuk melakukan doa atau melakukan kidung panutup sebagai bentuk rasa syukur karena telah diijinkan melakukan ritual-spiritual di sini. Tidak jarang, ketika acara ruwatan massal ini diselenggarakan, digelar pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk. Usai pagelaran wayang kulit, pagi harinya dilanjutkan dengan upacara labuhan (melarung) potongan kuku, rambut, dan pakaian para peserta ruwatan ini ke Laut Kidul dari bibir Pantai Glagah.
C. Lokasi
Gunung Lanang terletak 4 km di sebelah barat pos retribusi kawasan wisata alam Pantai Glagah, Dusun Bayeman, Kelurahan Sindutan, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.
D. Akses

Untuk mengunjungi Gunung Lanang, Anda harus sampai di kawasan Pantai Glagah di Kecamatan Temon, Kulon Progo terlebih dahulu. Bila berangkat dari Kota Jogja, Anda dapat menggunakan kendaraan umum berupa bus maupun kendaraan sewaan/pribadi.
Di Terminal Pusat Giwangan Yogyakarta Anda akan mudah mendapati bus jurusan Yogya-Wates. Memakai bus jurusan ini, Anda perlu mengeluarkan biaya Rp10.000,- untuk sampai ke terminal Kota Wates, Ibu Kota Kabupaten Kulon Progo dengan waktu tempuh sekitar 45 menit perjalanan. Sesampainya di Terminal Kota Wates, Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan bus trayek Wates-Glagah-Congot-Trisik dengan biaya sekitar Rp5.000,- per penumpang. Dari sini, Anda hanya membutuhkan waktu sekitar 15—20 menit perjalanan.
Sementara, bagi Anda yang lebih suka menggunakan kendaraan pribadi. Maka, dari pusat Kota Jogjakarta, Anda harus menuju arah barat melalui Jalan Jogja-Wates, jalan ini merupakan jalur utama Jogja-Purworejo, dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Memasuki Kota Wates akan ada penunjuk jalan kemana arah selanjutnya untuk sampai ke Kawasan Pantai Glagah. Dari pos retribusi Pantai Glagah, tampak papan penunjuk “Wisata Religius Gunung Lanang 4 Km” tepat di pertigaan jalan, kemudian ikuti saja jalan itu.

E. Harga Tiket

Pengunjung akan dikenai biaya retribusi sebesar Rp1.500,- per orang untuk masuk ke kawasan wisata Pantai Glagah. Di loket retribusi, pengunjung yang membawa sepeda motor harus membayar retribusi tambahan sebesar Rp1.000,-, sementara untuk wisatawan yang menggunakan mobil wajib membayar Rp1.500,-.
Setelah melalui gerbang retribusi, maka Anda tidak perlu membeli tiket atau karcis lagi untuk menapaktilasi Gunung Lanang ini. Namun, pengunjung disarankan untuk menyisihkan uang ala kadarnya untuk sang juru kunci yang bernama Mbah Pawiro Suwito.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Mbah Pawiro Suwito sebagai juru kunci akan memandu Anda yang ingin menjalani ritual tertentu di gunung keramat ini. Beliau, akan membantu kelengkapan sesaji atau bahan-bahan pendukung ritual lainnya. Anda tidak perlu resah dengan ketersediaan penginapan dan rumah makan, lantaran dekatnya Gunung Lanang dengan obyek wisata Pantai Glagah membuat akomodasi mudah didapatkan. Di kawasan wisata pantai ini, banyak terdapat losmen-losmen atau hotel kelas melati yang rata-rata per malamnya hanya Rp15.000,- sampai Rp25.000,- saja. Untuk rumah makan, Anda dapat memilih warung makan nasi rames, mie ayam, masakan padang, atau restoran sea food yang letaknya di sepanjang jalan area Pantai Glagah.








Sistem Pendidikan Nasional


Pelaksanaan pendidikan nasional berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jalur Pendidikan Jalur pendidikan terdiri atas:
1. Pendidikan formal,
2. Nonformal, dan
3. Informal.

Jalur Pendidikan Formal Jenjang pendidikan formal terdiri atas:
1. Pendidikan dasar,
2. Pendidikan menengah,
3. Pendidikan tinggi.

Jenis pendidikan mencakup:
1. Pendidikan umum,
2. Kejuruan,
3. Akademik,
4. Profesi,
5. Vokasi,
6. Keagamaan, dan
7. Khusus.

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.
Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar bagi setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.
Pendidikan dasar berbentuk: Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat; sertaSekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.
Pendidikan menengah terdiri atas:
1. Pendidikan menengah umum, dan
2. Pendidikan menengah kejuruan.
Pendidikan menengah berbentuk:
1. Sekolah Menengah Atas (SMA),
2. Madrasah Aliyah (MA),
3. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan
4. Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi dapat berbentuk:
1. Akademi,
2. Politeknik,
3. Sekolah tinggi,
4. Institut, atau
5. Universitas.

Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi.

Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Pendidikan nonformal meliputi:
1. Pendidikan kecakapan hidup,
2. Pendidikan anak usia dini,
3. Pendidikan kepemudaan,
4. Pendidikan pemberdayaan perempuan,
5. Pendidikan keaksaraan,
6. Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja,
7. Pendidikan kesetaraan, serta
8. Pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

Satuan pendidikan nonformal terdiri atas:
1. Lembaga kursus,
2. Lembaga pelatihan,
3. Kelompok belajar,
4. Pusat kegiatan belajar masyarakat, dan
5. Majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk:
1. Taman Kanak-kanak (TK),
2. Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk:
1. Kelompok Bermain (KB),
2. Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. Pendidikan kedinasan berfungsi meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai negeri suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. Pendidikan kedinasan diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dan nonformal.

Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.Pendidikan keagamaan berbentuk:
1. Pendidikan diniyah,
2. Pesantren,
3. Pasraman,
4. Pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.

Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.

**Warga negara asing dapat menjadi peserta didik pada satuan pendidikan yang diselenggarakan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

ANGGUK


Angguk merupakan tarian tradisional yang dibawakan secara berkelompok. Tarian ini mengambil cerita dari Serat Ambiyo dengan kisah Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono.
Durasi tari Angguk berkisar antara 3 sampai 7 jam. Dibawakan oleh penari yang berjumlah 15 wanita. Kostum yang dipakai oleh penari adalah baju mirip baju serdadu Belanda yang dihiasi dengan gombyok barang emas, sampang, sampur, topi pet warna hitam, dan kaos kaki warna merah atau kuning dan mengenakan kacamata hitam.
Beberapa grup Angguk yang cukup populer antara lain :
1. Group Angguk Putri Sri Lestari dari Pripih,
2. Angguk Mekar Perwitasari dari Tlogolalo, Hargamulyo, Kokap,
3. Angguk Putri Puspa Rini dari desa Kulur, kecamatan Temon.
Pada jaman dulu orang sangat menggemari kesenian tari angguk ini hingga rela menonton hingga pagi hari. Penari angguk sangat terkenal akan kecantikan dan keahliannya dalam menari sehingga banyak pemuda yang tergila-gila akan pertunjukkan tari angguk sekalipun rumahnya sangat jauh. Kecamatan temon memang terkenal akan gadis-gadis cantik dan pandai menari.
Dikirim Oleh :
Mbah Joyo Wiyono
Dusun Kibon Kelurahan Kebonrejo
Kecamatan Temon

SEJARAH KEBONREJO


Kebonrejo adalah sebuah desa, bagian dari kecamatan Temon kabupaten Kulon Progo. Kabupaten Kulon Progo salah satu kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terletak di bagian paling barat DIY. Secara geografis terletak antara 7o38'42" - 7o59'3" Lintang Selatan dan 110o1'37" - 110o16'26" Bujur Timur.

Kebonrejo, dalam bahasa jawa berasal dari kata "kebon" yang artinya ladang/tanah, dan "rejo" yang artinya subur. Segala tanaman yang ditanam ditanah kebonrejo biasanya akan hidup subur. Hingga saat ini di kebonrejo terlihat tanam- tanaman yang subur seperti tanaman pisang, kelapa, padi dll. Bahkan dimusim kemaraupun masih banyak masyarakat kebonrejo yang aktif menanam tanaman produktif dimusim kemarau diantaranya semangka, melon, cabai, bawang merah dll.

Kebonrejo berada disebelah selatan perbukitan menoreh (daerah kokap). Dalam kisah pewayangan dikatakan/diibaratkan "ngajengaken samudro ngungkuraken redi" yang artinya didepannya (sebelah selatan) adalah samudra dibelakangnya pegunungan. Merupakan daerah lembah sehingga tidak kekurangan air sepanjang tahun. Disebelah timurnya adalah desa Temon Kulon dan disebelah baratnya adalah desa Karang Wuluh.

Temon adalah nama kecamatan, berasal dari bahasa jawa "temon" yang artinya temu. Dulu tempat bertemunya dua pejabat penting ditempat ini.
Sedangkan Kulon Progo, dalam bahasa Jawa berarti sebelah barat Sungai Progo, wilayahnya terletak di sebelah barat Sungai Progo. Sungai Progo menjadi batas dan memisahkan wilayah Kulon Progo dengan Kabupaten Sleman dan bantul di sebelah timur. Di sebelah utara Kulon Progo berbatasan dengan Kabupaten Magelang Propinsi Jawa Tengah, di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Purworejo Propinsi Jawa Tengah, sedangkan di sebelah selatan Kabupaten kulon Progo berhadapan dengan Samudra Indonesia.
Kabupaten Kulon Progo dengan luas wilayah 586,28 km2 secara administratif terdiri dari 12 kecamatan, 88 desa dan 930 dusun. Secara fisiografis Kulon Progo terdiri dari dataran pantai di bagian selatan, di bagian tengah dan timur berupa topografi bergelombang sampai berbukit, dan di bagian barat serta utara berupa perbukitan-pegunungan. Rangkaian perbukitan-pegunungan di bagian barat dan utara Kulon Progo ini dikenal sebagai perbukitan Menoreh.

Berdasarkan regristrasi penduduk tahun 2004 (sampai dengan akhir Juli 2004) jumlah penduduk sebanyak 453.019 jiwa terdiri 221.335 jiwa laki-laki dan 231.684 jiwa perempuan.
Kegiatan ekonomi di Kulon Progo yang tercermin pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), yang memiliki kontribusi tertinggi adalah pertanian, kemudian jasa-jasa, perdagangan;hotel;restoran dengan kontribusi terhadap PDRB pada tahun 2003 berturut-turut adalah 38,20%, 19,78% dan 13,24.

PDRB Kabupaten Kulon Progo tahun 2003 atas dasar harga berlaku sebesar 1,645 trilyun rupiah, sedangkan atas dasar harga konstan atas dasar tahun 2000 PDRB Kabupaten Kulon Progo tahun 2003 sebesar 1,338 trilyun rupiah. Pada tahun 2004 PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 1,835 trilyun rupiah, sedangkan atas dasar harga konstan atas dasar tahun tahun 2000 PDRB Kulon Progo sebesar 1,399 trilyun rupiah. PDRB perkapita atas dasar harga berlaku pada tahun 2002 sebesar Rp. 3.468.011 dan tahun 2003 meningkat menjadi Rp. 4.46.153,- serta tahun 2004 menjadi Rp. 4.884.013,-.

Dengan berbgai kebijakan dan program yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, pertumbuhan ekonomi selama kurun waktu tahun 2000 sampai dengan tahun 2004 menunjukkan adanya kenaikan yang menggembirakan

Secara geografis lokasi Kulon Progo terletak pada jalur tranportasi Jawa selatan. Wilayah Kulon Progo terhubung dengan kota-kota di Jawa oleh jaringan transportasi darat, termasuk jalur kereta api. Jalur selatan Jawa ini memiliki prospek baik untuk berkembang. Prospek ini juga didukung oleh kekayaan sumberdaya wilayah di bidang pertanian, peternakan, perikanan-kelautan, wisata, pertambangan.
Kawasan perbukitan Kulon Progo dengan pemandangan yang elok menyimpan kekayaan di bidang pertanian, perkebunan dan pariwisata. Sementara kawasan selatan dan pesisir menyediakan potensi kelautan dan perikanan serta pariwisata. Berbagai produk industri kecil dan kerajinan tangan dapat ditemukan hampir di seluruh Kulon Progo. Produk kerajinan Kulon Progo seperti berbagai anyaman serat, wayang golek, makanan tradisional telah tersebar ke berbagai daerah dan ke luar negeri.

Untuk menggarap potensi dan memajukan wilayahnya Pemerintah Kabupaten Kulon Progo memiliki komitmen yang ditunjukkan antara lain: pelayanan administrasi cepat dan mudah, dukungan prasarana dasar tersebar di seluruh wilayah. Semua itu didukung oleh kondisi wilayah yang aman dengan masyarakat yang aman, guyub.
Dikirim Oleh :
Ahmad Jazim
Halim Jakarta Timur

KEBOREJO BANGKIT

Kebonrejo Belum dapat memanfaatkan RMU

Desa yang tidak mampu mengelola bantuan Rice Milling Unit (RMU) atau penggilingan padi hibah dari Pemerintah RRC, akan ditarik untuk diberikan kepada desa yang membutuhkan. Hibah 10 unit penggilingan padi senilai Rp 250 juta/ unit ini diserahkan Pemerintah RRC, Agustus tahun 2004 dan diberikan kepada 10 desa di Kulonprogo. Namun ternyata belum semua desa penerima RMU dapat memanfaatkan karena berbagai alasan, seperti RMU Desa Karangsari, Kebonrejo, Jatirejo, Sogan, Karangsewu, dan Depok.


“Kami memberikan batas waktu 3 bulan, jika tidak ada perkembangan yang lebih baik, maka mesin akan kami berikan kepada desa lain yang sudah siap dan membutuhkan,” kata Bupati Kulonprogo H Toyo Santoso Dipo, saat mengunjungi desa penerima bantuan RMU, Kamis (12/5). Toyo mengatakan, bila pengelola tidak mampu mengoperasikan agar memberitahukan ke pemerintah desa, jangan justru menyalahkan mesin yang tidak baik. Selama ini pengelola tidak pernah melapor ataupun mencari tahu dari desa lain yang sudah beroperasi. Namun justru membiarkan menjadi besi tua yang tidak bermanfaat.



Menyangkut permodalan, menurut Toyo sebenarnya bisa dibicarakan dengan desa karena Pemkab telah mengucurkan dana ke desa yang dapat dimanfaatkan. Namun harus ada pembagian yang jelas baik pengelola ataupun pihak desa. Bila usaha penggilingan sudah berjalan dengan baik dan berkembang, Pemkab juga akan berupaya mencarikan solusi berkait dengan modal. Belum beroperasinya RMU dibeberapa desa juga sangat disayangkan oleh Orien dari Yayasan Rumah Ganesha. Terhadap desa yang dinilai tidak siap dan mesin belum dipasang, Orien tidak akan mengirim mesin RMU karena hanya akan sia-sia. Sementara masih banyak desa lain yang juga menginginkannya. Untuk membantu pengelolaan RMU yang mengalami kesulitan teknis, Orien menyatakan siap membantu dan menyediakan waktu 24 jam. Sedangkan desa yang sudah berhasil mengoperasionalkan RMU yaitu Desa Srikayangan, Palihan, Wijimulyo, dan Banjarharjo.



Bagi yang berhasil mengoperasikan kualitas beras hasil gilingan lebih baik dibandingkan gilingan lain yang sudah ada, sehingga RMU lebih diminati konsumen. Dikatakan Ketua Pengelola RMU Margo Basuki Desa Banjarharjo, Atemorejo, hasil penggilingan berasnya lebih bagus dan diminati konsumen, karena mesinnya dilengkapi dengan alat yang dapat memi- sahkan antara beras utuh, beras pecah, dan menir, dan kualitas katulnya lebih bagus. Kelebihan lain dari mesin ini sangat cocok untuk proses penggilingan partai besar karena lebih ringan dan tidak melelahkan operator. Dijelaskan Atemo, sejak dioperasionalkan Juli 2004 hingga April 2005 sudah mendapatkan pemasukan sebesar Rp 8.035. 300 dan pengeluaran untuk operasional dan pemeliharaan sebesar Rp 5.973.800 atau masih tersisa saldo Rp 2.061.500. Jumlah gabah yang digiling hingga 30 April 2005 mencapai 97.7 ton yang menghasilkan beras 57.536 kg. (Wid)-b